Brosur Sebagai Media Promosi Paling Laris dari Dulu Hingga Sekarang

Brosur Bikinidcard.com. Anda pasti sudah tidak asing dengan media promosi yang sudah banyak digunakan oleh para pengusaha ini. Sudah banyak lho, yang menggunakannya seperti salon, barber shop, toko aksesoris dan ain-lain. Bahkan banyak juga komunitas dan organisasi yang menggunakannya untuk promosi pertunjukan maupun sebagai media sosialisasi.

Biasanya, mereka menyebarkan brosur di lampu merah, tempat umum, sekolah, dan lain-lain.

Apa sih Brosur Itu?

Menurut Wikipedia, brosur adalah buku yang diterbitkan secara tidak berkala, yang terdiri dari satu hingga beberapa halaman, tidak terkait dengan terbitan lain dan selesai dalam sekali terbit. Di Inggris, dari abad ke – 16 hingga abad ke-8, istilah pamphlet atau brosur digunakan untuk ringkasan risalah yang kontroversial mengenali topik – topik aktual. Umumnya berhubungan dengan agama atau politik.

Selain berupa selembar kertas yang dilipat menjadi beberapa bagian, brosur juga berupa selembar kertas lebar yang tidak dilipat dan kedua sisinya dicetak. Brosur seperti ini dikenal dengan nama flyer.

brosur

Terkadang brosur juga berupa beberapa lembar flyer yang disatukan menjadi buku tipis atau booklet. Namun, tidak seperti buku pada umumnya yang memiliki sampul lebih tebal dan terbuat dari bahan yang berbeda dengan kertas isinya, sampul brosur booklet memiliki ketebalan dan berasal dari bahan yang sama dengan kertas isinya.

Selain itu, pada umumnya hanya bagian luar sampul buku yang dicetak. Sementara sampul brosur booklet dicetak bolak-balik, tidak hanya bagian luarnya.

Sejarah Brosur

Brosur awalnya berupa flyer. Flyer berabad-abad lalu, flyer berupa tulisan maupun gambar yang ditulis dan dilukis secara manual. Dulunya, brosur dalam bentuk flyer hanya bisa dibuat oleh orang-orang kaya seperti keluarga kerajaan, bangsawan maupun politikus untuk menyebarkan suatu informasi karena harga kertas, tinta dan tenaga para pembuat flyer yang mahal.  Sementara orang biasa menggunakan cara yang lebih sederhana untuk memasang pengumuman: dengan berteriak/ berorasi di tengah keramaian seperti di pasar maupun perbatasan antar kota.

Namun sejak Johanes Guterberg seorang warga negara Jerman menciptakan mesin printing press pada tahun 1450. Lahirnya mesin printing press membuat pencetakan flyer menjadi lebih mudah, cepat dan dapat diproduksi dalam jumlah yang banyak.

Johanes Guterberg akhirnya membuka percetakan untuk melayani semua orang yang ingin membuat flyer. Akhirnya, siapapun dapat mencetak flyer tanpa perlu memiliki mesin cetak.

Flyer kemudian menjadi alat utama untuk kampanye dan propaganda yang dilakukan oleh para politikus. Tidak hanya digunakan oleh para politikus, brosur dalam bentuk flyer juga digunakan oleh masyarakat sipil seperti organisasi kemasyarakatan untuk mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat.

Sekitar tahun 1763 di Amerika Utara, para politikus menyebarkan pamflet yang mengkritik parlemen Inggris yang berkuasa di sana. Brosur dalam bentuk pamflet tersebut berisi propaganda agar Amerika harus segera bebas dari belenggu Inggris.

Pada tahun 1788 hingga 1789, di Perancis  brosur berupa pamflet banyak disebarkan untuk mengkritik pemerintah monarki Perancis yang bergelimang harta dan korup.

Istilah Brochure Saat Itu

Istilah brosur berasal dari bahasa Inggris yaitu “brochure”. Istilah brochure digunakan oleh masyarakat Inggris pada tahun 1748. Masyarakat Inggris sendiri sebenarnya mengambil kata “brochure” dari bahasa Prancis. Dalam bahasa Prancis, brochure memiliki definisi “pekerjaan yang dijahit.”

“Pekerjaan yang dijahit.” maksudnya adalah brosur tersebut berupa lembar-lembar kertas yang disatukan dengan cara dijahit sehingga menjadi sebuah buku tipis (booklet).

Di Indonesia, brosur masuk bersamaan dengan datangnya Belanda. Saat itu brosur digunakan untuk mempromosikan perusahaan-perusahaan milik atau yang dipimpin oleh Belanda.

Sementara warga Indonesia asli yang menggunakan brosur biasanya adalah organisasi-organisasi kemasyarakatan untuk mengkampanyekan gerakan-gerakan sosial dan memprotes kebijakan-kebijakan Belanda.

Salah satu brosur atau pamflet yang pernah dibuat oleh orang asli Indonesia adalah brosur yang dibuat oleh Ki Hadjar Dewantara  pada tahun 1913 yang kemudian dinilai oleh pemerintah Hindia-Belanda tidak seharusnya diterbitkan dan disebarkan. Penerbitan brosur tersebut membuat beliau dicari oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Brosur tersebut ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara dalam bahasa Belanda, judulnya “Als Ik Eens Nederlander Was” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti “Jika Saya Seorang Belanda.”

Penggunaan brosur semakin marak pada tahun 1930-1942 menjelang kemerdekaan. Brosur-brosur yang banyak beredar pada periode tersebut juga masih sama seperti kebanyakan brosur yang beredar di negara-negara lain: berbagai alat kritik dan protes terhadap pemerintah kolonial yang korup serta kampanye untuk memberontak dan meraih kemerdekaan.

Usai proklamasi kemerdekaan, kegunaan brosur di Indonesia mulai beralih menjadi media pemasaran suatu produk maupun jasa. Namun, brosur tetap eksis digunakan sebagai alat distribusi informasi seputar politik.

Tujuan dan Fungsi Brosur

Brosur dibuat dengan tujuan untuk memperkenalkan atau menginformasikan perihal suatu perusahaan, organisasi, produk, jasa maupun gerakan/aksi kepada para calon customer maupun orang-orang yang sekiranya memerlukan informasi yang dimuat pada brosur tersebut.

Beberapa Fungsi yang Sering Kita Ketahui

  1. Media Iklan/Promosi

Fungsi pertama brosur adalah sebagai media iklan atau promosi suatu perusahaan, lembaga, jasa maupun produk. Contohnya adalah brosur perumahan, brosur sekolah hingga brosur makanan. Brosur untuk iklan biasanya memuat berbagai macam informasi yang rinci mengenai perusahaan, lembaga jasa maupun produk yang  dipromosikan.

Misalkan brosur rumah/perumahan. Pada brosur tersebut biasanya tidak hanya berisi nama perumahan, lokasi, promo dan kontak kantor pemasaran perumahan tersebut tapi juga terdiri dari tipe-tipe rumah beserta dengan gambar fasad, denah, detail ukuran, harga cash hingga cicilannya serta segala informasi penting lainnya.

Berbeda dengan halnya poster yang biasanya hanya terdiri dari foto salah satu fasad rumah, nama perumahan, promo gila-gilaan, harga cash dan kontak serta alamat kantor pemasaran perumahan tersebut.

Informasi yang begitu lengkap dan rinci tersebut membuat brosur iklan/promosi paling sedikit dicetak satu lembar bolak-balik. Seringkali hingga berbentuk katalog atau booklet.

  1. Media Kampanye

Fungsi brosur selanjutnya adalah sebagai media kampanye.

Kampanye partai politik? Kampanye calon wakil rakyat?  Ya, bisa juga. Namun, kampanye tidak melulu soal politik. Brosur dapat digunakan untuk mengkampanyekan sebuah gerakan maupun aksi positif. Contohnya adalah untuk mengkampanyekan aksi reboisasi, gerakan menggunakan transportasi umum untuk bekerja dan sekolah, gerakan untuk peduli terhadap penderita HIV/AIDS dan berbagai gerakan maupun aksi positif lainnya.

Brosur adalah salah satu alat kampanye yang sangat efisien karena dapat memuat banyak informasi, sehingga masyarakat yang membaca brosur kampanye tersebut bisa benar-benar memahami tujuan serta mengapa harus ikut serta dalam gerakan maupun aksi yang bersangkutan.

  1. Media Pengenalan

Media pengenalan di sini dapat berisi tentang informasi profil perusahaan, lembaga organisasi maupun informasi detail mengenai suatu benda.

Contohnya adalah brosur pertunjukan sandiwara Ketika Anda menonton pertunjukan sandiwara secara offair, maka Anda akan mendapatkan sebuah brosur yang berisi berbagai macam informasi mengenai sandiwara yang tengah ditampilkan mulai dari judul sandiwara, sinopsis, penulis naskah, sutradara, nama lengkap dan foto para pemeran  beserta nama tokoh yang diperankan, lembaga/perusahaan yang mensponsori pertunjukkan tersebut dan sebagainya.

Ciri-ciri Brosur

Pada awal artikel tadi telah dijelaskan bahwa brosur dapat berupa selembar kertas yang tidak dilipat. Lantas, apa bedanya dengan poster, padahal poster juga berupa selembar kertas yang tidak dilipat. Untuk memahami perbedaan antara poster dengan brosur, mari simak ciri-ciri brosur berikut:

  1. Informasi Detail

Ciri Pertama brosur adalah informasi yang dicetak pada permukaannya sangat detail. Sementara informasi pada brosur terbatas dan cenderung menggunakan bahasa yang padat serta efisien.

Di bawah ini merupakan contoh tulisan pada poster:

Rumah Dijual Dp Rp.0%

Bisa KPR

Lokasi di Perumahan A

Bebas banjir, mobil bisa masuk

Segera  hubungi 08xxxxx

Seperti itulah kurang lebih informasi yang dicetak pada poster. Padat dan tepat. Sementara informasi yang dicetak pada brosur biasanya sangat detail sebagaimana yang telah dijelaskan pada fungsi brosur sebafai media iklan/promosi pada pembahasan sebelumnya.

  1. Dicetak Dua Sisi

Brosur selalu dicetak dua sisi karena informasi yang disampaikan sangat detail, sehingga memerlukan banyak ruang pada kertas yang digunakan untuk mencetak. Sementara poster hanya dicetak satu sisi.

  1. Tidak Selalu Ditempel

Anda pasti pernah melihat mading, papan pengumuman maupun dinding rumah yang ditempeli kertas berisi iklan suatu event maupun jasa. Kertas-kertas tersebut sebagian besar adalah poster.

Brosur sangat jarang ditempel di dinding, mading maupun papan pengumuman karena brosur dicetak dua sisi, sehingga bila ditempel maka salah satu sisinya tidak terlihat. Supaya informasi pada kedua sisi dapat tersampaikan, maka perlu ditempel dua lembar poster pada mading, papan pengumuman maupun dinding.

Pemasangan dua lembar brochure pada sebuah media tempel yang sama tentu memakan banyak ruang, menghabiskan lebih banyak brochure dan media tempel. Oleh karena itu orang-orang jarang menempelkan brochure. Jika terpaksa harus menempelnya, maka papan koran dari kaca adalah pilihan yang paling tepat karena papan koran terbuat dari kaca bening. Sehingga, ketika brochure di tempel, maka kedua sisinya tetap dapat dibaca.

  1. Tidak Berseri

Sebagaimana yang telah dijelaskan tadi bahwa brochure juga dapat teridiri dari beberapa lembar yang disatukan menjadi buku tipis atau booklet.

Namun antara booklet yang diterbitkan pada suatu waktu oleh sebuah perusahaan, lembaga maupun organisasi bukan merupakan kelanjutan dari booklet yang diterbitkan pada waktu sebelumnya meskipun produk/jasa yang diiklankan sama dan yang menerbitkannya adalah perusahaan, organisasi maupun lembaga yang sama.

Berbeda dengan buku pelajaran, fiksi, sejarah maupun buku bacaan lainnya. Booklet brosur sekilas tampak seperti majalah maupun buletin. Namun sebenarnya ia tidak sama dengan sama dengan majalah maupun buletin karena brosur tidak memiliki edisi, sementara majalah dan buletin memiliki edisi.

Pada  setiap edisi majalah/tabloid pasti memuat informasi yang berbeda dari edisi sebelumnya, tetapi jika pada edisi sebelumnya ada informasi yang belum selesai dituliskan, maka akan dilanjutkan pada edisi tersebut.

Misalkan pada  suatu majalah terbitan edisi Januari 2020 ada hasil wawancara dengan seorang aktor. Jika hasil wawancara tersebut sangat panjang, maka akan dilanjutkan pada majalah terbitan bulan selanjutnya.

Sementara pada brosur, segala informasi harus sampai pada 1 brosur, tidak bisa dipotong-potong.

Desain Brosur

Desain brosur dapat dibuat menggunakan coreldraw, adobe illustrator, adobe photoshop maupun Microsoft publisher.

Desain tersebut kemudian dapat dicetak pada kertas HVS maupun art paper. Perbedaan kedua jenis kertas tersebut dapat Anda lihat pada penjelasan berikut:

Kertas HVS

Kertas HVS adalah kertas kesat berwarna dasar putih yang kerap digunakan untuk mencetak berbagai macam dokumen/file. Kertas HVS juga kerap digunakan untuk mencetak lembar soal dan jawaban ujian. Jadi, pasti Anda sudah tidak asing dengan  kertas ini.

Namun, kertas HVS yang digunakan untuk mencetak brosur bukan sembarang kertas HVS. Biasanya kertas HVS yang digunakan meurpakan kertas yang lebih tebal dibandingkan kertas HVS pada umumnya Contohnya adalah kertas HVS 80 gram.

Art Paper

Art paper adalah kertas berwarna dasar putih dengan permukaan mengkilap. Kertas art paper juga memiliki berbagai macam ketebalan atau grammasi seperti kertas HVS. Jenis kertas Art paper yang biasa digunakan untuk cetak brosur adalah art paper 120 gram dan 150 gram.

Contoh Brosur

Di bawah ini adalah contoh brochure yang dapat Anda jadikan sebagai referensi:

pengertian brosur

Tempat Cetak Brosur Murah

Seperti halnya brochure pada zaman dahulu yang dapat dipesan di percetakan press, saat ini brochure juga dapat Anda pesan di percetakan offset. Di Indonesia ada banyak percetakan brosur, salah satu percetakan yang dapat Anda andalkan adalah Bikinidcard.com.

Bikinidcard.com menyediakan brochure yang dibuat dari bahan kertas khusus seperti kertas HVS maupun art paper. Ada 3 ukuran kertas yang bisa Anda pilih yaitu A4, F4 dan A3. Kertas-kertas tersebut dapat dicetak 1 maupun 2 muka.

Desain milik Anda akan kami cetak menggunakan mesin printing offset yaitu mesin printing khusus untuk mencetak kertas dalam jumlah ratusan dengan 1 desain yang sama. Sehingga proses pencetakan cepat, hasil cetakan full color dan warnanya tajam.

Belum punya desain? Tenang, kami tidak Cuma bisa cetak desain brosur yang telah Anda miliki. Kami juga siap membantu Anda untuk membuat desain dengan tarif ekonomis.

Informasi mengenai harga cetak brosur di tempat kami dapat Anda lihat melalui website resmi kami yaitu Bikinidcard.com.

Untuk melakukan pemesanan secara online silakan hubungi customer service kami pada nomor 0822 4303 3334. Anda juga dapat pesan brosur secara offline dengan datang ke kantor kami yang berlokasi di Jl. Nyi Ageng Nis No. 550, KG 1, Kelurahan Rejowinangun, Kecamatan  Kotagede, Yogyakarta 55171.

Brosur

0.00
9.8

Rating

9.8/10